Massa demo kantor Facebook di Jakarta. Foto: detik.com Menanggapi demo yang dilakukan aliansi massa islam lintas organisasi, Facebook menyatakan pihaknya memiliki Standar Komunitas yang dibuat untuk mencegah adanya organisasi atau individu yang menyerukan ujaran kebencian atau kekerasan terhadap pihak lain yang memiliki pandangan berbeda. Secara tidak langsung, pernyataan tersebut justru membenarkan tudingan Front Pembela Islam (FPI). Seperti diketahui FPI dan ormas lainnya melakukan demo bertajuk 121 di kantor Facebook. Mereka menuding Facebook menerapkan standar ganda karena hanya memblokir akun-akun milik ormas dan tokoh-tokoh Islam, namun membiarkan akun-akun provokatif yang menyerang Islam. FPI mencontohkan akun milik dosen UI, Ade Armando. Dalam postingannya, Ade diketahui kerap “menyerang” Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab. Atas tudingan tersebut, Facebook seperti dikutip detik.com (12/1/18), membantah dengan mengatakan pemblokiran terhadap akun-akun milik ormas dan tokoh Islam kebijakan sudah sesuai dengan standar kebijakan mereka yang bertujuan mencegah ujaran kebencian dan kekerasan terhadap pihak yang berbeda pandangan. Pernyataan Facebook sangat kontradiktif dengan fakta di lapangan. Jika kita telusuri banyak akun-akun anonim yang menyerukan kebencian terhadao Islam namun tidak diblokir. Mengapa demikian? Sangat mungkin “polisi” Facebook tidak paham jika artikel atau postingan akun-akun tersebut menyerang Islam. Penyebabnya tentu karena kebijakan tersebut dibuat dengan standar “mereka” bukan standar Islam. Bahkan jangan-jangan, ada sebagian pekerja Facebook yang sudah terjangkit Islamophobia sehingga memiliki anggapan ajaran Islam adalah bagian dari ujaran kebencian itu sendiri. Jika sudah demikian, maka ketika ada umat Islam memposting ayat atau hadits tertentu pasti langsung dianggapnya sebagai (bagian) ujar kebencian! Kita menghormati hak Facebook membuat standar “perusahaan”. Kita juga menolak jika FPI dan ormas Islam lainnya melakukan tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis (intimidasi) terhadap pegawai Facebook. Untuk itu alangkah baiknya jika standar yang dibuat Facebook mengadopsi juga pemikiran komunitas lain karena standar itu diberlakukan di ranah publik yakni kepada para pengguna Facebook yang memiliki beragam latar-belakang.