Mungkin, judul diatas sudah sangat-
sangat familiar di telinga sebagian
orang, dan saya adalah orang yang
sangat setuju dengan kalimat diatas.
Melalui tulisan ini, saya ingin
berbagi pengalaman singkat saya,
semoga bisa jadi manfaat untuk
orang lain.
Tahun 2016, sekitar bulan mei. Saya
memulai project iseng sendirian,
memanfaatkan sedikit ilmu SEO
yang saya punya. Project iseng
tersebut tak disangka malah
mendatangkan rezeki yang bagi saya
cukup besar. Dalam periode Mei-
Desember 2016 saja, saya
setidaknya punya 10 orang yang
mengurusi lini bisnis tersebut.
Awal Januari, bisnis ini mulai
stagnan. Laba bersih yang biasanya
mencapai 100-150 Juta/bulan mulai
tergerogoti kompetisi dan juga
faktor-faktor lain. Di periode ini,
saya secara pribadi masih merasa
sangat tenang. Alasannya
sederhana, saya masih punya
sumber penghasilan lain.
Saya mulai panik memasuki bulan
Februari, saya mulai memikirkan 10
orang dibelakang saya ini,
bagaimana nasib mereka nanti.
Terlebih orang-orang ini adalah
orang yang baru mengenal dunia
digital marketing, mereka kerja
sekaligus belajar ke saya.
Saya kemudian mencoba menggali
kesalahan-kesalahan yang ada di
team ini dan menemukan beberapa
poin penting.
1. Minim inovasi
Sejujurnya, kami over PD dengan
apa yang ada di depan mata. Kami
memang melakukan sebuah inovasi,
tapi hanya sebatas pada lini produk
andalan kami. Yang kemudian tanpa
kami sadari bahwa produk tersebut
akan saturated, masyarakat mulai
berpaling.
Saya sejujurnya sadar, karena
keyword soal produk tersebut saya
yang nemu. Tapi prediksi saya
mengenai kapan keyword tersebut
akan anjlok meleset.
2. Terlalu banyak melakukan hal
yang tidak penting
Terlalu banyak hal yang menurut
saya secara pribadi membuat kami
menghabiskan waktu dan tenaga
untuk hal yang gagal. Kami
melakukan sesuatu yang menurut
saya adalah membuang waktu dan
tenaga daripada fokus membesarkan
Ini bisnis yang sudah ada.
3. Investasi gagal
Terlalu merasa besar adalah sesuatu
yang berbahaya. Dalam konteks ini,
team saya sangat mudah
mengeluarkan uang untuk
berinvestasi, tanpa dipikir rasio
gagal seberapa besar. Entah berapa
duit yang kami bakar percuma.
4. Komunikasi
Kita boleh berkecimpung di dunia
online, tapi saya yakin seyakin-
sayakinnya bahwa orang akan
merasa lebih nyaman ketika bertatap
muka. Dan ini yang terjadi pada
team saya, saya berada di Jakarta,
sementara team saya di Magetan.
Tidak ada penyambung lidah yang
baik, hingga pada akhirnya banyak
pesan dari saya yang gagal
tersampaikan dengan baik, akhirnya
eksekusi juga tidak sesuai dengan
apa yang saya harapkan.
5Jangan semuah diayahi sendiri
Ini adalah kalimat yang biasa
disampaikan orang Jawa ketika
melihat seseorang melakukan
segala sesuatunya sendiri. Jangan
lakukan semuanya sendirian,
delegasikan tugasmu ke orang lain.
Ini adalah kesalahan saya pribadi,
semua saya kerjain sendiri. SEO,
AdWords, FB Ads, dll. Tidak salah
memang, tapi saya lupa bahwa tugas
saya sebagai pemimpin team ini
adalah management dan
menciptakan ide baru.
“Buat apa kamu menggaji team
kalau kamu masih kerjain hal
teknis? kamu harusnya jadi thinker
dan ideas maker”, pesan salah satu
orang terdekat saya.
Sejujurnya, saya tidak menyesal lini
bisnis saya ini ambrol. Bukan
karena saya masih punya
penghasilan lain, melainkan saya
mendapatkan pengalaman yang
sangat berhaga dari ambrolnya
bisnis tersebut, bagi saya ini lebih
berharga dari nilai mata uang.
6. Pengalaman dan Kematangan
Saya boleh jadi bekerja di lingkup
konsultan bisnis, ilmu sedikit
banyak belajar dari sana. Tapi
pengalaman dan kematangan tidak
bisa mewakili sebuah ilmu, tidak
ada teorinya. Saya sendiri masih
berumur 23 tahun tahun kemarin,
juga orang-orang saya yang rata-
rata umurnya sama.
Saya sendiri baru terjun ke dunia
bisnis di tahun itu juga, sebelumnya
saya juga seorang publisher
AdSense biasa.
Dari pengalaman tersebut, saya
akhirnya belajar menciptakan bisnis
yang lebih tertata lagi, lebih matang
(dalam cara berfikir), dan lebih
berfikir kedepan.
Sekian, semoga bermanfaat.
( Baca Juga :
Tips Sederhana Membangun Sebuah Bisnis Online)
Share this